Friday, January 29, 2010

APAKAH HOMOSEKSUALITAS BERSIFAT BIOLOGIS?

Para kaum homoseksual sejak lama mengemukakan pendapat bahwa dirinya berbeda dengan masyarakat yang heteroseksual lainnya dalam hal orientasi seks.  Orientasi seks mereka muncul dari dalam dan bukan merupakan pilihan atau dibentuk dari lingkungan sosial.  Hal tersebut telah menjadi perdebatan dalam bidang sosial, sains, politik, bahkan agama.  Artikel kali ini menjadi jalan tengah dari perdebatan tersebut, yang mana telah diteliti bahwa homoseksualitas merupakan bagian dari fenomena biologis.

Seorang peneliti syaraf dari Salk Institute of San Diego bernama Simon LeVay menemukan bahwa bagian anterior hipotalamus (bagian yang mengontrol perilaku seksual) dari seorang homoseksual, memiliki bentuk yang lebih mirip dengan anterior hipotalamus milik wanita dibandingkan dengan yang dimiliki pria heteroseksual.  Hal tersebut dikemukakan dalam jurnal yang menjelaskan tentang perbedaan otak pada homoseksual dengan heteroseksual, yang kemudian diketahui perbedaan tersebut ditemukan pada bagian hipotalamus.  Hipotalamus sendiri merupakan bagian yang berfungsi sebagai sumber dorongan seksual.  Hal tersebut meningkatkan kemungkinan bahwa perbedaan tersebut bukan hanya berhubungan dengan homoseksualitas, tapi juga berperan sebagai penyebabnya.

Salah satu penafsiran (korelasi atau penyebabnya) menyarankan bahwa beberapa perbedaan biologis adalah akar dari homoseksualitas dan yaitu dugaan yang sangat potensial.  Homophobia dapat mengeksploitisir hasil dengan menentukan tempat kerusakan pada otak pada homoseksual, bahkan mereka dapat mendeteksi homoseksualitas pada bayi yang masih dalam kandungan.  Lainnya menginterpretasikan data tersebut sebagai bukti bahwa homoseksual merupakan variasi alamiah dari otak seperti tangan kidal.  Kemudian akan banyak gay akan membenarkan penemuan LeVays tersebut seperti apa yang telah mereka percayai.  Hal tersebut mulai menjawab Mengapa homoseksual muncul di hampir kebanyakan populasi manusia, walaupun budaya membatasi.  Sehingga diusulkan bahwa homoseksualitas merupakan fenomena biologis.

Penemuan tersebut berdampak besar pada dunia sains sebagaimana pada lingkungan sosial.  Perbedaan struktur hipotalamus antara pria dan wanita mungkin ditentukan tingkat hormonal saat dalam kandungan.  Beberapa perbedaan dapat berperan pada perilaku seksual pada pria dan wanita.

LeVay telah memerikas post-mortem dari otak manusia dan menemukan dua daerah, atau disebut nuclei.  Nuklei pada anterior hipotalamus pria berukuran dua kali dari yang dimiliki wanita.  Studi berlanjut pada pria homoseksual yang meninggal karena AIDS.  19 homoseksual menunjukkan satu bentuk dari nuclei (disebut INAH-3) berukuran lebih kecil dibandingkan pada pria heteroseksual.  Ukuran nuclei tersebut serupa dengan yang dimiliki oleh wanita.

Penelitian tersebut merujuk pula pada penelitian yang dilakukan oleh Gloria Hoffman, seorang ahli neuroendokrin dari University of Pittsburgh.  Eksperimennya menyebutkan bahwa monyet yang memiliki luka pada bagian anterior hipotalamus menunjukkan tanda-tanda penurunan pada aktivtas seksualnya (seperti mounting dan masturbasi).  Penelitiannya dijadikan rujukan sebagai pembanding terdekat dari manusia dalam hal pengaruh efek fisik terhadap orientasi seksual.

Semua objek penelitian LeVay adalah homoseksual yang meninggal akibat AIDS.  Pria homoseksual sangat berisiko terkena AIDS dibandingkan kaum lesbian.  Timbul perdebatan bahwa mengecilnya nuklei merupakan dampak yang muncul akibat AIDS dan bukan bentuk alami dari homoseksual.  Hal tersebut dibantah dengan dukungan dari seorang peneliti dari UCLA.  Peneliti tersebut menyatakan bahwa pria heteroseksual yang meninggal akibat AIDS, akibat kasus lain, memiliki INAH-3 nuklei yang lebih besar.

[Via http://biologicallytested.wordpress.com]

No comments:

Post a Comment